Untuk apa hidup jika orang yang di cintai telah tiada, masa kecil seharus nya berada dalam dekapan ibu tercinta, merasakan pelukan dan ciuman sang bunda,semua itu ia rasakan hanya sekejap saja.Hari ini,besok dan seterusnya ia harus hidup tanpa bunda tercinta,karena bunda kini telah tiada.
Itu lah pil pahit kehidupan yang harus di telan Dedi. Anak berumur empat tahun ini harus ikhlas mengantar sang bunda ke tempat peristirahatan nya yang terakhir.Mungkin dalam benak Dedi terpikir bunda kejam meninggalkannya, ketika pelukan ,ciuman,kasih sayang sang bunda masih di harapkan.Namun inilah kehidupan,dengan atau tanpa ridho kita, hidup ini meski berjalan sesuai kehendak nya.Sebagai hamba Allah manusia hanya bisa tawakkal dan menyerah kan urusan kepada Nya.
Kini, hari-hari Bocah kecil itu hanya bisa menangis dengan tersedu sedu ,kata Ibu,Ibu,Ibu............ itulah yang sering terucap lisannya.Ayah yang seharus nya bisa berjihad mencari nafkah keluarga,harus rela berbagi waktu untuk anak tercinta. Jika hendak pergi bekerja,sang ayah menitip kan Dedi kepada sanak keluarga.
Walau tanpa ibu tercinta ,Dedi tetap semangat menjalani hari-hari nya,bermain bersama teman seumuran dengan nya.Terkadang Dedi ikut bersama ayah ,dengan senang hati sang ayah mengajak Dedi ketempat dimana ia mengais rezeki ,menjadi seorang upahan untuk menghidupi keluarga.
Tiga tahun waktu berjalan.Kasih sayang sang ayah, senyuman sang ayah, pelukan mesra sang ayah,tempat merengek dan mengadu. Hari ini,besok dan seterusnya semua itu tak akan Dedi rasakan lagi.Ikhlas atau tidak,sang ayah telah di panggil oleh yang kuasa.Diumur tujuh tahun itu,Dedi harus kembali menelan pahitnya Pil kehidupan.Dulu sewaktu harus berada dalam dekapan bunda,namun sang bunda meninggalkannya dan kembali pada yang kuasa, dan sekarang ketika kasih sayang ayah yang telah ia rasakan,namun sang ayah telah pergi untuk selamanya.
Nasib menjadi yatim piatu telah ia rasakan mulai dari umur tujuh tahun,kadang iri melihat teman-temannya bercengkrama dengan ayah dan ibu mereka.Rengekan mereka ada yang mendengar,rintihan mereka ada yang merasakan,sedangkan Dedi hanya hidup tanpa kasih sayang ibu dan ayah.kadang kerinduan itu hanya terlepaskan dengan melihat batu nisan ibu dan ayah.
Kini,Dedi hidup bersama keluarga pamannya (Abang kandung ibunya ),disinilah Dedi kembali mulai ceria dengan di temani anak paman yang seumuran dengan Dedi.Disini ia kembali merasakan kasih sayang, cinta nya Ibu dan ayah seakan akan ia rasakan kembali, walau hanya sentuhan kasih sayang paman dan bibi.
Dengan kasih sayang paman dan bibi ,Dedi mulai tumbuh dewasa dan menjadi orang yang berpendidikan,dari sini ia mulai menggantungkan cita-cita. Lain dulu lain sekarang,dengan kasih sayang paman dan bibi ,kini dedi telah menyelesai kan studi nya di SMA, dan alhamdulillah sepeninggal penulis (saya sendiri,berangkat ke Cairo ) Dedi ikut pendidikan mandiri pemerintah daerah. Good Luck Brother.
Ketika bayangan ayah dan ibu hadir dalam benak nya,Dedi hanya bisa berdoa "Ya Allah ampunilah dosa ku dan dosa kedua orang tuaku,dan kasihanilah mereka kedua nya sebagaimana mereka mengasihani ku di waktu kecil, Ya allah jadikan lah Kubur mereka taman dari taman surga,dan hindari lah mereka dari siksa neraka…amin."
Tulisan diikutsertakan dalam kontes blog di http://www.anazkia.blogspot.com/ yang disponsori oleh http://denaihati.com/